Menjelajahi Desa Waerebo, Desa dengan Penuh Semangat dan Kehangatan

Beberapa waktu lalu saya melakukan travelling ke wilayah Timur. Salah satu lokasi yang saya datangi adalah Waerebo. Untuk menuju ke sana, saya harus melakukan perjalanan mendaki bukit sekitar 4 jam. Kenapa? karena desa ini letaknya di atas perbukitan dengan ketinggian sekitar 2.100an mdpl. Titik awal perjalanan bisa kamu mulai dari Desa Denge.

S__11943943

Desa Denge ini adalah wilayah khusus untuk warga di Desa Waerebo yang ingin melakukan aktivitas sekolah, berobat, dan beberapa kegiatan lainnya. Jadi di Waerebonya sendiri para masyarakatnya hanya beraktifitas secukupnya saja. Biasanya mereka berkebun kopi, jeruk atau menenun untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari. Bayangkan, untuk memenuhi sandang & pangan, mereka harus membawa hasil kebun mereka turun ke Desa Denge kemudian dijual dengan beras serta beberapa kebutuhan pokok lainnya, lalu dibawa kembali ke atas. Dengan berat minimal 18 kg,sudah menjadi hal yang biasa bagi mereka untuk membawa barang naik-turun ke desa. Kegiatan tersebut dilakukan secara rutin.

Bagaimana jika ada yang sakit atau melakhirkan? Penduduk Waerebo yang sedang mengandung saat usia kandungan mereka sudah memasuki 8 bulan, biasanya mereka persiapan dengan turun ke Desa Denge agar pada saat melahirkan nanti tidak akan mengalami kesulitan. Hal tersebut dilakukan karena belum adanya fasilitas puskemas ataupun klinik di desa.

Sebagai informasi Desa Waerebo terdiri dari 7 rumah yang disebut Mbaru Niang. Jumlahnya sendiri tidak boleh ditambah & dikurang. Terdapat 1 Mbaru Niang khusus untuk Ketua Suku, 1 Mbaru Niang khusus untuk para tamu yang berkunjung ke sana dan sisanya untuk ditempati warga. Tidak hanya satu keluarga tapi 1 Mbaru Niang bisa ditempati oleh lebih dari 7 keluarga. Di dalam Mbaru Niang itu sendiri terdapat beberapa lantai yang bertingkat.

Satu hal yang buat saya pengen banget balik lagi ke sana adalah keramahan warganya. Dari awal perjalanan pendakian saya ke Waerebo, saya selalu berpapasan dengan warga Waerebo yang hendak ke Desa bawah. Tahu apa yang mereka lakukan ketika bertemu orang asing? Mereka dengan ramahnya memberikan jabatan tangan kepada kita dan bertegur sapa. Senyum khas mereka yang tulus, buat perjalanankamu yang tadinya lelah langsung berasa adem.

Pada saat perjalan ke sana ada kejadian yang membuat saya terenyuh yaitu ketika saya berpapasan dengan seorang kakek berusia 70 tahunan, yang baru saja turun tadi pagi dari Waerebo & siangnya kembali lagi naik ke atas, hanya untuk berobat suntik karena demam. Berat yah?

S__11943956

Saat kita sedang singgah di tempat baru, hal yang harus dilakukan adalah kita harus menuruti semua aturan di tempat tersebut. Begitupun di Desa Waerebo, selama di sana ada beberapa pantangan yg tidak boleh dilakukan bagi para tamu. Tidak boleh menduduki/menaiki area sakral yang sudah ditentukan. Saya disarankan untuk tidak memberikan uang atau makanan kepada anak kecil di sana. Hal tersebut dilakukan untuk menghindari dampak buruk ke depannya bagi mereka dan melatih mental mereka untuk tidak menjadi peminta-minta kepada setiap tamu yang datang. Sayangnya, saya di sana cuma bisa stay sehari dikarenakan waktu yang terbatas.

You can easily make yourself happy, if you try

Kehidupan di Desa Waerebo memberikan saya banyak pelajaran. Bahwa Hidup itu bukan soal seberapa banyak benda/hal yang kita punya,tapi seberapa banyak kita bisa memaksimalkan apa yang sudah kita punya.

S__11943955

One day, saya akan kembali lagi ke Waerebo, desa yang penuh kehangatan.

(aank)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s