Sejarah (Curhatan) Commuter Line

S__11247808
Commuterline melintas

Halo teman teman “Clueyourun”, apa kabarnya nih? Semoga sehat dan tetap pecicilan ya. Asal kalian tahu tim ”Clueyourun” biasa memanggil satu sama lain dengan sebutan “keluarga”. Tapi kalo kalian merasa belum terbiasa tidak masalah kalau kita mulai dengan panggilan “teman” dulu.

Oiya teman, kapan dan kemana terakhir kali kalian Clueyourun? Berenang di laut di bawah hamparan birunya langit? Mendaki bukit yang berdiri gagah di atas bumi? Atau mungkin sekedar clueyourun cemal cemil mencoba jajanan baru di kota kamu ?

Nah, kalo jawaban kalian yang terakhir pasti kalian tidak asing lagi denganku apalagi untuk teman teman yang tinggal di sekitaran JABODETABEK. Perkenalkan, aku adalah salah satu Kereta Listrik Commuter line yang dikelola oleh PT KAI Commuter JABODETABEK. PT KAI Commuter JABODETABEK adalah anak perusahaan PT Kereta Api Indonesia (KAI) yang beroperasi sejak tahun 2008.

Kereta api sendiri sudah sejak lama menjadi salah satu moda transportasi favorit bagi sebagian besar masyarakat di Indonesia khususnya pulau Jawa karena kereta api adalah angkutan massal yang murah dengan waktu tempuh yang relatif cepat jika dibandingkan dengan moda transportasi lainnya. Kecuali pesawat terbang ya, kalau soal itu sepupu jauh ku yang satu itu unggul jauh.

Nenek moyangku sudah ada di indonesia sejak jaman belanda, adalah Kolonel J.H.R. Van der Wijck yang pertama mengajukan proposal untuk membuat jalur kereta api (rel) di Hindia Belanda (sebutan untuk Indonesia waktu itu) pada tahun 1840. Tujuannya untuk mengangkut komoditas dari sistem kerja tanam paksa yang diterapkan oleh pemerintah Hindia Belanda waktu itu. Hayo ada yang tahu tidak nama kerennya tanam paksa? Yak benar, jawabannya cultuurstelsel.

Pembangunan kereta api berikut jalurnya direalisasikan pada tahun 1867 diawali dengan pembangunan rute Semarang – Tanggung dengan panjang rute 26 km (km disini Kilometer ya, bukan Kamar mandi :p). Dilanjutkan dengan rute Tanjung Priok di Jakarta dan Tanjung Perak di Surabaya pada tahun 1876, pada masa itu nenek moyangku masih menggunakan tenaga uap, (karena asap/uap yang mengepul di udara itulah Nenek moyangku disebut Kereta api) sedangkan sekarang pamanku sudah memakai tenaga diesel dan Ibuku memakai tenaga listrik. Agar tidak terjadi perseteruan antara keluarga, Paman biasa melayani rute antar Kota antar Provinsi, sementara Ibu melayani rute di dalam Kota.

S__11247807

Sudah cukup bicara tentang nenek moyangku, mari lebih mengenal ibuku sang kereta listrik Express. Ibuku adalah kereta dengan penampilan yang cukup elegan, bersih dan efisien. Beliau yang sebenarnya lama di Jepang sehingga penampilannya sedikit banyak masih mirip dengan tipikal penampilan kereta jepang lainnya, namun ibu sudah mengalami banyak ”penyesuaian” penampilan akibat ulah penumpangnya. Kaca ibu banyak yang pecah akibat dilempari oleh orang-orang yang ibu lewati di sepanjang jalurnya. Orang-orang yang mungkin belum cukup pintar untuk menyadari kalau kereta adalah alat transportasi yang membawa ratusan Penumpang dengan ratusan kepentingan didalamnya. Termasuk berpergian untuk bekerja dan menafkahi keluarganya. Mungkin pelempar itu mengira ibu adalah siluman ular besi raksasa yang datang dengan sangat cepat dan akan memangsa keluarganya sehingga mereka bisa dengan seenaknya melempari ibu, ah sudahlah.

Semasa tugasnya Ibu bertemu dengan ayahku, sang kereta listrik ekonomi. Walaupun sama-sama lama di Jepang, kondisi fisik ayah jauh lebih sederhana dari Ibu. Sebagian besar kacanya bolong dan pintunya tidak dapat tertutup. Namun kesederhanaannya membuat Ayah membumi, tenang dan tidak sombong. Siapa saja bisa menaiki Ayah dengan hanya Rp. 1,500 (red. 2006) harga yang sangat murah untuk perjalanan panjang yang hemat waktu. Ayah juga berhenti di setiap stasiun yang dilewatinya, tidak seperti Ibu yang hanya berhenti di stasiun-stasiun besar saja.

Walaupun banyak membantu, Ayah dan Ibu juga sempat dibenci oleh masyarakat karena mereka kerap menimbulkan kecelakaan yang menimbulkan korban luka atau bahkan korban jiwa. Aku tidak menyalahkan Ayah dan Ibu karena sebagian besar kecelakaan disebabkan kecerobohan penumpang maupun orang sekitarnya. Sejak 2011, PT KAI Indonesia melalui PT KAI Commuter JABODETABEK berusaha melakukan pembenahan sistem perkeretaapian di JABODETABEK termasuk memperketat peraturan dan menindak tegas siapa saja penumpang yang melanggar, menyederhanakan jalur menjadi hanya 5 jalur utama, dan “merumahkan” Ayah dan Ibu karena faktor usia. Tapi jangan sedih, sebagai ganti Ayah dan Ibu mereka mendatangkan aku dan saudara-saudaraku dari Jepang, para Kereta Listrik Commuter Line.

S__11247806

Kini aku menggantikan Ayah dan Ibu, hampir setiap 15 menit sekali aku tepat waktu tiba di stasiun (kalau tidak ada gangguan hehe) dan karcisku juga bukan karcis kertas yang ditukar setelah kalian membayar, tapi sudah menggunakan sistem kartu elektronik yang bisa di isi ulang.

Eh sudah dulu ya aku harus bekerja lagi, lain kesempatan aku akan bercerita lebih banyak lagi tentang diriku. Satu pesanku teman, ketika kalian berpergian hargai dan rawatlah kami, jangan di rusak apalagi dilempari oke? Ayolaah katanya keluarga. Oh iya, satu lagi jangan lupa ikutin terus cerita-cerita lainnya di “Clueyourun”, kan katanya keluargaaaa…

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s